Tulisan semu bukan tentang kamu atau aku. Bukan dia atau mereka. Hanya fantasi nyata dan tak nyata.
Tuesday, December 30, 2014
Karena aku masih belum mengerti Cinta
Monday, December 29, 2014
Cerita Lain dari orang Lain
Saturday, December 27, 2014
Senja
merasuki sukma. melebur dalam raga
Menatap indah
Dengan senja di mata. membuat aku terjaga
khayalan-khayalan indahku
tentangmu
Sungguh
tak ingin terjadi
berharap akan berakhir
dengan
Andai
andai aku memilih
hanya satu. Hapuslah senja,
jangan biarkan aku melihatnya
Thursday, December 11, 2014
sedia kala.
tak sanggup menatap mata indahnya.
luka yang membekas dalam batinnya,
menghancurkan pintu harapan
membuatnya menistakan apa yang tlah terucap.
lalu..??
mampu ia menutup tirai hati yang tersobek? mengembalikannya seperti
sedia kala.
NB: dibuat setelah 'sesuatu' terjadi di kelas. saat semua sedang konsentrasi kuliah lahirlah puisi duka ini :')
Thursday, October 30, 2014
ekhemm.. ekhemmm..
Saturday, October 25, 2014
akhirnyaaa, derita ituu saya bongkar jugaa!
karena kehidupan jaman SMA dengan kehidupan anak kuliahan itu berbeda jauhh, maka dibutuhkan adaptasi yang bisa dibilang cukup lumayan lama dan sulit. kehidupan perkuliahan yang sangat rentan terhadap segala hal yang bersifat negatif, membuat mahasiswa harus pandai memilah dan memilih dengan cermat. supaya mempunyai bekal yang cukup untuk menempati 'kehidupan yang sebenarnya'.
seorang dosen mengatakan: "masa kuliah ini kalian (mahasiswa) harus sudah membuat prioritas dari hari ini hingga setelah cita-cita tercapai.", namun sayangnya, satu hal yang dari dulu (setelah mimpi yang sudah terancang rapi ternyata berantakan!) sampai detik ini tak bisa aku temukan adalahh 'apa cita-citaku?'. sering aku berfikir untuk alih jurusan dan mengejar mimpiku sendiri. karena aku merasa belum ikhlas untuk melupakan impian tersebut.
masih terekam, ketika orang-orang melarang ku memasuki dunia pilihanku, aku mampu untuk tidak menghiraukan mereka, tapi aku tak bisa berkutik ketika orangtua dan bahkan keluarga yang lain pun satu paham untuk melarangku memasuki dunia impianku.
sehingga, setelah itu pun aku terombang-ambing tanpa mimpi yang jelas. hanya impian jangka pendek yang membuatku terus bertahan.
tapi tak selamanya kita hidup dalam impian jangka pendek kan? karena hidup itu tidak boleh hanya berpasrah seperti air yang mengalir. apalagi dalam fase memasuki masa dewasa, impian masa depanlah yang lebih utama, dengan impian tersebutlah kita mengukur 'modal' untuk bertahan hidup dalam 'kehidupan yang sebenarnya'
jadi, mengapa dalam kamus ku, menjalani hidup tanpa ada impian hanya membuat derita. atau mungkin aku 'merasa' menderita karena menjalani 'pilihan' hidup ini tanpa ke-ikhlasan? yang jelas aku hanya berharap jalan ku tak lagi tertutup rapat. dan aku mampu untuk membuat bangga keluargaku. setidaknya mereka tersenyum bahagia karena aku.
Thursday, October 23, 2014
absurd!
ini jujur nih dari hati yang terdalamm.
aku sering bertanya pada diri sendiri, terutamanya sejak mid pertama kemarin. apakah benar, bapak-bapak dosen tercintah memikirkan nasib mahasiswanyaaa? apakah mereka memikirkan perasaan para mahasiswa yang kesulitan menjawab soal? apakah mereka dengan sengaja membuat soal yang sesungguhnya melenceng dari apa yang telah mereka beri?
bukannya mau su'udzon. hanya saja bagi mahasiswa seperti daku yang seorang kawan bilang pandai mengarang, mid kemarin justru dijadikan sebagai ajang mengarang bebas. satu dua soal yang masih mampu dinalar tanpa analisis yang rumit, masih bisa lah dijawab dengan sedikit nalar pula. namun berapalah skor satu dua soal tersebut? terlalu kecil jika dibanding dengan banyaknya soal yang emmm sedikit gila! atau memang gila--"
dan lagi. bagi daku yang termasuk 'nyasar' berada di kampus dan jurusan, ini bukanlah hal yang mudah. disamping harus berusaha untuk mencintai 'mereka'. aku harus pula beradaptasi dengan lingkungan yang ternyata 180 derajat berbeda dengan lingkungan saat sekolah dulu. tapi setidaknya bukan hanya 'duka lara' yang kudapat. namun juga sedikit bahagia yang terselip dalam hari-hari yang sulit ini.
yang jelas, pada akhirnya aku harus bisa menyemangati diri sendiri. tetap semangat dan tidak boleh menyerah!!
target utama: mencintai psikologi tanpa menjadi gila terlebih dahulu {}
Monday, October 13, 2014
segalanya telah usai sejak kala itu.
tak akan ada lagi senyum manis menghias wajahnya. bagi nya, kejadian itu terlalu memalukan. harga dirinya telah jatuh sejak pertanyaan sinis terlontar dari mulut sang pengajar. seakan tak puas membuat nya memerah malu, sang pengajar pun lebih menjatuhkan dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan dihadapan kelas. tak ada kawan yang membantu dirinya. malah ia melihat senyum bahagia terpancar dari beberapa kawan, mungkin termasuk 'dia'.
menyakitkan memang, namun ia bisa apa? ia hanya mampu memendamnya seorang diri. karena ia bukan lah seorang pencerita yang mampu menuangkan curahan hatinya pada seseorang.
aku tak tau bagaimana cara nya mengatasi segala masalah tanpa membaginya dengan kawan seorangpun. yang aku tau, aku kagum pada sosoknya. ia bisa bangkit setelah kejadian "tak tau diri". ia bahkan masih menghormati sang pengajar tersebut. hanya saja, aku tak lagi melihat senyum manis darinya. dirinya telah bermemorfosis menjadi sosok yang dingin.
Entah cerita entah puisi yg jelas ini curhatan
Sunday, June 29, 2014
arti cinta
apa ini cinta? aku tak paham arti cinta
inikah cinta?
sebuah kehampaan dalam pengharapan?
sungguh sulit dimengerti.
ragu,
hatiku telah menyentuh cinta
inilah cinta?
titik balik perubahan seseorang.
Thursday, March 20, 2014
RINDU!
kala rindu kian menggebu. saat itulah aku berada dalam titik terbawah. menangis untuk sosok yang tak pernah mengerti rasaku. meninggalkanku sepi dalam pengapnya kamar. terisak dalam pelukan guling dibalik selimut usang. meresapi setiap rindu yang semakin membara. jika boleh meminjam istilah seorang kawan, inilah "Rindu Kesumat" ku.
entah berapa lama waktu untuk ku sadari hadirnya rasa ini. dengan sebuah cara yang salah untuk mengungkapkan rasa padanya. sebuah rasa sayang atas nama persahabatan.
salahku, mengabaikannya dengan dalih sahabat lebih baik. kini rasa itu justru mengakar dalam jiwa dan pikiranku.
galau menjadi makanan sehari-hariku. kala mengingatnya, airmata tak pernah melepasku pergi. selalu hadir seiring dengan kenangan yang terputar rapi.
memandang wajahnya, seolah mencabut pikiranku, menerbangkan jauh pada sosok yang tak akan mungkin berada di sisiku kembali. Ya, aku pesimis, karena aku mengerti dan sadar diri bahwa aku kini bukanlah seseorang yang berarti dalam hidupnya
meskipun begitu, aku masih setia menggaungkan namanya dalam batin yang sepi. merekam suaranya dalam memori yang kemudian tersimpan dalam hati.
Thursday, March 6, 2014
Dalam Luka
tapi kau yang ku rindu
ku tatap sepi bersama sunyi
membiarkan desiran angin membawa kabut tetes telaga
melayang jauh dari masa
ketika kau masih bersama
rindu, sanggupkah aku genggam tanpa pilu? tanpa derai yang tak henti mengalir
taukah kau? diriku masih selalu tersenyum meski jiwa terlalu rapuh
topeng tebal masih selalu menemani ku
meringkuk dalam dekap tebar bintang
Friday, February 14, 2014
Rasa yang Berbeda
tergantikan oleh rembulan
meninabobokan makhluk tak tau diri
dengan
pancaran yang tak seberapa
aku terbuai
terlelap dalam rindu menggebu
alam pun mengerti, seolah.
hadirnya memberi sejuta warna bagi hidup
ada yang ingin ku kata, sahabat
"rasaku telah membeku dalam kalbu"
percayakah kau?
walau hanya mimpi yang menjelaskan