Tentang Surti yang fokusnya pada satu.
Sudah berlama dia begitu. Namun baginya satu tak jua tuntas. Mudah dan tidak bukan perkaranya, lebih pada mau tidaknya.
Bagi dia Surti segala.
Bagi Surti dia segala.
Lantas? Mengapa harus tuntas?
Bagi dia Surti segala.
Bagi Surti dia segala.
Lantas? Mengapa harus tuntas?
Karena sungguh, harus membuatnya enggan.
"Segala itu yang menyakitinya." Mereka berdua.
"Segala itu yang menyakitinya." Mereka berdua.
"Maka tuntas adalah pilihan."
Begitu jawabnya
Begitu jawabnya