kala rindu kian menggebu. saat itulah aku berada dalam titik terbawah. menangis untuk sosok yang tak pernah mengerti rasaku. meninggalkanku sepi dalam pengapnya kamar. terisak dalam pelukan guling dibalik selimut usang. meresapi setiap rindu yang semakin membara. jika boleh meminjam istilah seorang kawan, inilah "Rindu Kesumat" ku.
entah berapa lama waktu untuk ku sadari hadirnya rasa ini. dengan sebuah cara yang salah untuk mengungkapkan rasa padanya. sebuah rasa sayang atas nama persahabatan.
salahku, mengabaikannya dengan dalih sahabat lebih baik. kini rasa itu justru mengakar dalam jiwa dan pikiranku.
galau menjadi makanan sehari-hariku. kala mengingatnya, airmata tak pernah melepasku pergi. selalu hadir seiring dengan kenangan yang terputar rapi.
memandang wajahnya, seolah mencabut pikiranku, menerbangkan jauh pada sosok yang tak akan mungkin berada di sisiku kembali. Ya, aku pesimis, karena aku mengerti dan sadar diri bahwa aku kini bukanlah seseorang yang berarti dalam hidupnya
meskipun begitu, aku masih setia menggaungkan namanya dalam batin yang sepi. merekam suaranya dalam memori yang kemudian tersimpan dalam hati.