Terlalu lelah mengenang asa. Yang tersembunyi dalam raga.
terlalu letih menatap senja. Terlalu indah untuk ku raih.
Jauh mu seperti itu.
Tak mampu lagi ku kata. Tak lagi kita bersama.
Apa daya.
kala pagi menyapa.
Bayangmu
tak lagi sama.
Tulisan semu bukan tentang kamu atau aku. Bukan dia atau mereka. Hanya fantasi nyata dan tak nyata.
Terlalu lelah mengenang asa. Yang tersembunyi dalam raga.
terlalu letih menatap senja. Terlalu indah untuk ku raih.
Jauh mu seperti itu.
Tak mampu lagi ku kata. Tak lagi kita bersama.
Apa daya.
kala pagi menyapa.
Bayangmu
tak lagi sama.
Jangan beri harapan yang tak dia sadari
Jangan beri kasih yang dia sebar ke banyak wanita
Jangan biarkan daku terpedaya olehnya.
Tuhan. Iman ku masih lemah. Tuhan, hatiku tak sekuat baja.
Tuhan, tolong jaga perasaanku dari cinta yang salah.
Jangan biarkan dia tahu isi hatiku
Cukup aku dan Engkau.
Karena imanku masih selemah hatiku.
Aku tak pernah berjalan mundur. Aku selalu berhenti di tempat.
Ketika kau maju. Aku masih di tempat.
Ketika kau mendekat. Aku tetap di tempat.
Mataku pun hanya memandang. Tak mampu bergerak.
Aku takut.
Ketika aku melangkah maju. Kau melangkah mundur.
Berjalan ke belakang. Berlari berbalik arah.
Maka biarkan aku di tempat. Menunggumu mendekat, untuk Menggenggam rapat.
Aku berkata rindu lalu kau nenolak
Aku berkata cinta dan kau menghindar
Tapi,
kau beri harapan
Kau hadir untuk ku
Ah, mungkin aku yang salah
Menganggap mu bagian diriku
Tapi..
Tolong.
Aku tersesat,
dalam rinduku.
Terlena.
dengan kasihmu
Apa daya?
Pesonamu tak mampu kutolak
Apa salah relakan hati ini?
Seperti kutunggu kereta pada dermaga. Seperti menunggu buih menjadi es.
Saat ku tak lagi mampu bersajak
maka biar mata ini bercerita padamu. Esok
Kala kita berjumpa.
Pada Gelap kamar.
02:06 AM, 30-08-15
Hei!
Bukankah drama kita telah usai
sandiwara yang kau mainkan sukses besar
Untuk apa kau kembali? Memperlihatkan tipu daya padaku lagi?
Itu konyol
Aku tak mengerti apa yang kau pikirkan
Tapi kau salah menilaiku.
Hei!
Aku tak serendah yang kau kira.
Kesetiaan kau anggap angin. Lalu,
kau kira aku akan percaya padamu (lagi)?
Itu konyol.
Hei!
Selama ini aku salah bersandar
Kau anggap kokohmu melindungiku dari badai?
Rupanya alam telah berubah
Menjadi lebih sekedar pekat. Menghantam panggung kita
Dan kau,
Tak setangguh yang ku kira.
Ah, bukan salah badai.
Bukan pula salah dirimu.
Hanya saja,
Aku yang terlalu percaya padamu.
Hei!
Bukankah drama kita telah usai
sandiwara yang kau mainkan sukses besar
Untuk apa kau kembali?
Pergilah!
Pergi!
Aku tak lagi ingin melihatmu
Bahkan mendengar kabar yang kau titipkan pada burung dan angin sekalipun.
Mengingat sadiwaramu itu sedih. Tapi aku tak menyesali semua itu. Hanya saja aku tak sanggup untuk kembali seperti dulu. Kepercayaan dan keyakinan ku telah usang sejak kau khianati janji tulusmu. Karena setiap luka tak akan pernah sembuh sempurna maka biarkan bekas ini menjadi bukti bahwa kita pernah sedekat nadi.
Teruntuk masa lalu yang (masih) ku (coba) ikhlaskan.
Ku buka kenangan yang selalu membelai malam
melayangkan angan pada cerita lama kita
membiarkan dirimu hanyut dalam benakku. Lalu...
Semua menjadi buram.
Hadirmu tak lagi sama
ku sadar film telah usai. Tanpa ending. Atau..
Inikah ending kita?
Tanpa perpisahan. Hanya darai rindu yang
coba kulepaskan.
Menghapus rasa yang
tersimpan bertahun lamanya.
Selesai sudah..
Risalah cinta.