Thursday, October 30, 2014

ekhemm.. ekhemmm..

ekhemmm, setelah sekian lama tidak memposting puisi, akhirnya ada juga puisi yang bisa aku sebarkan melalui blog ini. meskipun bukan puisi akuu hehehee

perkenalkan, ini puisi buatan seorang kawan 'gila' dari fakultas psikologi. dia si pemain keyboard yang selalu MERENDAH!
oke, ini dia puisinya. Selamat menikmatiii :)

Jalan Hidup

Aku terpaku di persimpangan arah, merenungi jalan berdebu tiada henti,
Terbayang senyuman manis berbalut kesenangan
dan  di antara seribu bayangan, ku langkahkan kaki menuju arah yang pasti
Ku ayun harapan dari butir-butir peluh yang mengalir
Terbayang canda yang ku lalui hari demi hari
Ku raih mimpi yang tak pernah bertepi
dan kini, semua itu tinggal menunggu waktu
Kebahagiaan nyata yang akan ku gapai, bukan untuk kebahagiaan semu,
Aku dapatkan arah yang benar dan mencoba untuk tidak kehilangan arah,
Mencoba tetap menjadi diriku sendiri, bukan menjadi orang lain,
Pohon beringin tempat persinggahanku..
Akan tetap di sini, dan selalu di sini dengan ketenangan sejukmu

Dan aku telah mendapatkan semuanya, itulah jalan yang ku pilih

karya dan hak cipta: Arum Pangestuti

Saturday, October 25, 2014

akhirnyaaa, derita ituu saya bongkar jugaa!

ketika seorang mahasiswi merasa setres, maka inilah yang terjadi. sebuah susunan kata absurd yang ternyata menjadi sebuah curhatan!

karena kehidupan jaman SMA dengan kehidupan anak kuliahan itu berbeda jauhh, maka dibutuhkan adaptasi yang bisa dibilang cukup lumayan lama dan sulit. kehidupan perkuliahan yang sangat rentan terhadap segala hal yang bersifat negatif, membuat mahasiswa harus pandai memilah dan memilih dengan cermat. supaya mempunyai bekal yang cukup untuk menempati 'kehidupan yang sebenarnya'.
seorang dosen mengatakan: "masa kuliah ini kalian (mahasiswa) harus sudah membuat prioritas dari hari ini hingga setelah cita-cita tercapai.", namun sayangnya, satu hal yang dari dulu (setelah mimpi yang sudah terancang rapi ternyata berantakan!) sampai detik ini tak bisa aku temukan adalahh 'apa cita-citaku?'. sering aku berfikir untuk alih jurusan dan mengejar mimpiku sendiri. karena aku merasa belum ikhlas untuk melupakan impian tersebut.
masih terekam, ketika orang-orang melarang ku memasuki dunia pilihanku, aku mampu untuk tidak menghiraukan mereka, tapi aku tak bisa berkutik ketika orangtua dan bahkan keluarga yang lain pun satu paham untuk melarangku memasuki dunia impianku.
sehingga, setelah itu pun aku terombang-ambing tanpa mimpi yang jelas. hanya impian jangka pendek yang membuatku terus bertahan.

tapi tak selamanya kita hidup dalam impian jangka pendek kan? karena hidup itu tidak boleh hanya berpasrah seperti air yang mengalir. apalagi dalam fase memasuki masa dewasa, impian masa depanlah yang lebih utama, dengan impian tersebutlah kita mengukur 'modal' untuk bertahan hidup dalam 'kehidupan yang sebenarnya'

jadi, mengapa dalam kamus ku, menjalani hidup tanpa ada impian hanya membuat derita. atau mungkin aku 'merasa' menderita karena menjalani 'pilihan' hidup ini tanpa ke-ikhlasan? yang jelas aku hanya berharap jalan ku tak lagi tertutup rapat. dan aku mampu untuk membuat bangga keluargaku. setidaknya mereka tersenyum bahagia karena aku.


Thursday, October 23, 2014

absurd!

mikirin orang yang ga mikirin kita tuh rasanyaaa.. *sakitnya tuh disini* oke, lebay kambuh-_-

ini jujur nih dari hati yang terdalamm.
aku sering bertanya pada diri sendiri, terutamanya sejak mid pertama kemarin. apakah benar, bapak-bapak dosen tercintah memikirkan nasib mahasiswanyaaa? apakah mereka memikirkan perasaan para mahasiswa yang kesulitan menjawab soal? apakah mereka dengan sengaja membuat soal yang sesungguhnya melenceng dari apa yang telah mereka beri?
bukannya mau su'udzon. hanya saja bagi mahasiswa seperti daku yang seorang kawan bilang pandai mengarang, mid kemarin justru dijadikan sebagai ajang mengarang bebas. satu dua soal yang masih mampu dinalar tanpa analisis yang rumit, masih bisa lah dijawab dengan sedikit nalar pula. namun berapalah skor satu dua soal tersebut? terlalu kecil jika dibanding dengan banyaknya soal yang emmm sedikit gila! atau memang gila--"
dan lagi. bagi daku yang termasuk 'nyasar' berada di kampus dan jurusan, ini bukanlah hal yang mudah. disamping harus berusaha untuk mencintai 'mereka'. aku harus pula beradaptasi dengan lingkungan yang ternyata 180 derajat berbeda dengan lingkungan saat sekolah dulu. tapi setidaknya bukan hanya 'duka lara' yang kudapat. namun juga sedikit bahagia yang terselip dalam hari-hari yang sulit ini.

yang jelas, pada akhirnya aku harus bisa menyemangati diri sendiri. tetap semangat dan tidak boleh menyerah!!

target utama: mencintai psikologi tanpa menjadi gila terlebih dahulu {}

Monday, October 13, 2014

segalanya telah usai sejak kala itu.
tak akan ada lagi senyum manis menghias wajahnya. bagi nya, kejadian itu terlalu memalukan. harga dirinya telah jatuh sejak pertanyaan sinis terlontar dari mulut sang pengajar. seakan tak puas membuat nya memerah malu, sang pengajar pun lebih menjatuhkan dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan dihadapan kelas. tak ada kawan yang membantu dirinya. malah ia melihat senyum bahagia terpancar dari beberapa kawan, mungkin termasuk 'dia'.
menyakitkan memang, namun ia bisa apa? ia hanya mampu memendamnya seorang diri. karena ia bukan lah seorang pencerita yang mampu menuangkan curahan hatinya pada seseorang.
aku tak tau bagaimana cara nya mengatasi segala masalah tanpa membaginya dengan kawan seorangpun. yang aku tau, aku kagum pada sosoknya. ia bisa bangkit setelah kejadian "tak tau diri". ia bahkan masih menghormati sang pengajar tersebut. hanya saja, aku tak lagi melihat senyum manis darinya. dirinya telah bermemorfosis menjadi sosok yang dingin.

Entah cerita entah puisi yg jelas ini curhatan��