Hei!
Bukankah drama kita telah usai
sandiwara yang kau mainkan sukses besar
Untuk apa kau kembali? Memperlihatkan tipu daya padaku lagi?
Itu konyol
Aku tak mengerti apa yang kau pikirkan
Tapi kau salah menilaiku.
Hei!
Aku tak serendah yang kau kira.
Kesetiaan kau anggap angin. Lalu,
kau kira aku akan percaya padamu (lagi)?
Itu konyol.
Hei!
Selama ini aku salah bersandar
Kau anggap kokohmu melindungiku dari badai?
Rupanya alam telah berubah
Menjadi lebih sekedar pekat. Menghantam panggung kita
Dan kau,
Tak setangguh yang ku kira.
Ah, bukan salah badai.
Bukan pula salah dirimu.
Hanya saja,
Aku yang terlalu percaya padamu.
Hei!
Bukankah drama kita telah usai
sandiwara yang kau mainkan sukses besar
Untuk apa kau kembali?
Pergilah!
Pergi!
Aku tak lagi ingin melihatmu
Bahkan mendengar kabar yang kau titipkan pada burung dan angin sekalipun.
Mengingat sadiwaramu itu sedih. Tapi aku tak menyesali semua itu. Hanya saja aku tak sanggup untuk kembali seperti dulu. Kepercayaan dan keyakinan ku telah usang sejak kau khianati janji tulusmu. Karena setiap luka tak akan pernah sembuh sempurna maka biarkan bekas ini menjadi bukti bahwa kita pernah sedekat nadi.
Teruntuk masa lalu yang (masih) ku (coba) ikhlaskan.
No comments:
Post a Comment